Bagi saya, dua ribu sembilan adalah tahun penuh kontemplasi. Tahun yang dijejali tidak saja oleh kumpulan soal-soal Ujian Nasional, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi, atau pun soal-soal latihan menghadapi Ujian Saringan Masuk ITB. Lebih dari itu. Dua ribu sembilan adalah tahun kelulusan saya dari SMA, sekaligus juga momen ‘pelepasan’ diri saya dari dunia abu-abu yang sebenarnya: memasuki dunia dimana dunia tidak terlihat sesederhana hitam dan putih. Dunia yang lebih nyata sekaligus juga terasa lebih rumit. Dunia dimana berbagai definisi tentang “ideal” bisa dianggap benar. Dunia dimana pluralisme terasa begitu nyata, dan toleransi terasa begitu penting maknanya. Mengakumulasikan apa yang saya hadapi di dunia baru sekaligus juga mengatasi berbagai rintangan yang tidak bisa dianggap mudah selama awal tahun membawa saya pada suatu kesimpulan bahwa tahun 2009 adalah tahun pendewasaan diri.
Awal tahun 2009 saya jalani dengan kesadaran penuh (akhirnya) bahwa saya sudah sampai di penghujung masa Sekolah Menengah Atas. Masa SMA saya memang lebih berwarna di luar sekolah ketimbang di dalam sekolah sendiri (lucunya, “di luar sekolah” = ITB yang kini benar-benar menjadi kampus saya), tapi tetap saja SMA meninggalkan kesan yang cukup mendalam di diri saya. Saya ingat bagaimana emosi saya begitu tidak stabil di awal tahun, malam-malam dingin yang dilewatkan di bimbingan belajar, every-second-reminder dari guru-guru tentang “Ujian sebentar lagi”, momen-momen kesendirian yang mutlak ketika saya sadar bahwa bagaimanapun juga jalan hidup saya memang harus ditentukan oleh saya sendiri tanpa campur tangan orang lain, serta berbagai bentuk pengharapan yang dirangkai bersama teman-teman seperjuangan demi memasuki kampus impian. Kebimbangan mengenai masa depan, pertanyaan Quo vadis?, dan jeratan melankoli terus menghantui saya. Awal tahun 2009 adalah masa dimana saya mulai menerima diri apa adanya dan melihat Tuhan dari perspektif yang tidak biasa. Saya sangat berterimakasih pada kekuatan do’a dan kekhusyukan menjalani shalat, juga kepada teteh-teteh mentor serta teman-teman curhat yang berhasil mempertahankan kewarasan saya dalam masa-masa sulit.
Mendekati ujian-ujian, rasa tidak percaya diri mulai merasuk. Saya yang memang hanya menetapkan tujuan ke FTI ITB tanpa ada cadangan apa-apa mulai merasa ragu dengan pilihan serta kemampuan saya. PRA-UN yang nilainya agak jauh dari harapan juga menambah pesimisme saya. Godaan setan terus berdatangan dari mana-mana, terutama dunia debat yang waktu kelas 2 benar-benar menjadi fokus saya. Kadang-kadang saya mencari pelarian ke sana juga, curi-curi waktu untuk sekedar datang dan melatih adik kelas. Alhamdulillah, saya punya teman-teman seangkatan 2009 SMA Negeri 3 Bandung yang bisa membantu saya membuat skala prioritas. Saya ingat bagaimana mereka secara konstan menarik saya ke ‘jalan yang benar’, menyemangati di saat saya mulai menampakkan tanda-tanda untuk menyerah, dan memanjatkan do’a bersama-sama. Saya melihat setiap orang berjuang, tak peduli anak pintar atau anak geng, anak konglomerat atau anak biasa-biasa saja. Hawa-hawa ujian menebar dimana-mana, bahkan saat obrolan makan siang di kantin (“Ih jijik ada siput!”, “Oiya, siput itu kelas apa ya? Ordo apa? Reproduksinya gimana?”). Saya ingat waktu menjelang USM 1 ITB...saya ingat perjuangan mereka-mereka yang punya rezeki lebih untuk ikut USM 1 dan bagaimana mereka merasakan atmosfer persaingan memasuki kampus gajah yang seakan menjadi destinasi kultural bagi anak-anak SMA 3. Saya tentu saja tidak bisa menumpukan harapan pada USM 1 yang biayanya sangat di luar jangkauan itu. Mendekati Ujian Nasional, anak-anak Fakultas Kedokteran-minded yang gagal di SIMAK UI sebelumnya (tidak ada satu pun anak 3 yang masuk FK UI tahun ini), mulai berharap pada Ujian Masuk UGM, sebuah universitas yang santer digosipkan sudah mem-blacklist SMA 3. Pengumuman-pengumuman pun berdatangan. Saya melihat bagaimana bahagianya wajah-wajah orang yang diterima di STEI, FTI, dan sederet fakultas lainnya di ITB. Saya melihat wajah bahagia teman-teman yang diterima di FK UGM. Saya melihat kebimbangan teman-teman yang lulus berbagai macam tes masuk universitas hanya untuk berjaga-jaga. Saya melihat kekecewaan dan kata-kata “Jangan menyerah” berhamburan. Saya ingat saya curhat ke kakak betapa saya berharap bisa menjadi salah satu orang yang diterima di ITB dan bagaimana kakak selalu berhasil membuat saya tersenyum dengan uplifting and inspiring wordsnya. Saya ingat banyak malam penuh tangisan sambil ngulik rumus. Saya ingat countless e-mail yang saya kirimkan ke sahabat saya, yang pada waktu itu ikut program YES ke Amerika. Setiap saya mulai merasa down, saya ingat orang tua saya dan harapan yang mereka gantungkan pada saya.
Ujian Nasional datang dengan berbagai versi kunci jawaban yang tersebar melalui SMS sehari sebelumnya. Entah siapa yang mengirimkan SMS-SMS tersebut, tapi saya sama sekali tidak tertarik untuk menggunakannya. Buat apa? Meskipun transkrip nilai Ujian Nasional saya tidak kepala 9 semua, tapi saya puas karena itu benar-benar hasil pemikiran saya sendiri. Saya puas karena saya sudah berjuang sebatas kemampuan saya. Malam sebelum ujian pertama (Biologi, Bahasa Indonesia) saya tidur dengan kepala dipenuhi nama-nama latin dan anatomi tubuh manusia, sampai saya hapal warna spidol dan bentuk panah apa saja yang saya pakai di catatan saya.
Right after ujian nasional, saya mengalami ujian dalam bentuk lain. Hmm, memang tidak terlalu menyakitkan, but really, ternyata letting go of an ex itu susah juga ya? Selama setahun hal sensitif ini tergantung-gantung, sampai akhirnya salah satu pihak membuat keputusan final. Untunglah hal ini tidak terlalu mengganggu, dan ternyata semuanya bisa diselesaikan dengan baik. I had a more important thing to deal with. Setelah Ujian Nasional, tibalah masa persiapan menghadapi USM ITB Terpusat. Saya ikut program intensif 3 minggu di salah satu bimbel. Saya tidak tau apa yang merasuki pikiran saya untuk berbuat nekat, tapi saya akhirnya hanya memilih FTI sebagai satu-satunya pilihan di formulir pendaftaran. Nekat, sungguh, ditambah lagi saya tidak punya cadangan apapun untuk kuliah. Satu hal yang patut disyukuri adalah, saya tidak merasakan sindrom putus asa menjelang ujian. Perasaan deg-degan hanya saya rasakan pada hari pertama ujian, ditambah lagi saya terlambat akibat jalan yang subhanallah, macet sekali. Masuk dari gerbang belakang padahal saya ujian di Basic Science A Lantai 4. Sampai sekarang, pemandangan ribuan anak SMA yang memadati ITB tidak bisa saya lupakan. Benar-benar seperti mencoba meloloskan diri dari lubang jarum.
Masa-masa menunggu pengumuman kelulusan USM ITB benar-benar masa paling penuh ketidakpastian dalam hidup saya. Saya ikut intensif SNMPTN, tapi saya hanya belajar di bimbel saja karena saya sama sekali tidak berharap ikut SNMPTN. Jiper duluan! Dua minggu penuh ketidakjelasan itu akhirnya berakhir tanggal 12 Juni 2009, pukul 18.12. Saya ingat betapa shocknya saya menerima SMS dari Pak Ang, guru fisika saya di SSC yang sangat amat sering menginspirasi saya.
Sumpah, saya tidak bisa melukiskan kebahagiaan saat saya melihat pengumuman kelulusan itu dengan mata kepala saya sendiri.



Bulan Juni berlalu dengan bahagia, tapi kompensasinya adalah saya tidak bisa maksimal mempersiapkan Prom Nine (nama acara Prom SMA 3 09), 23 Juni 2009. Ah, mungkin saya hanya terpengaruh media-media Barat yang begitu mengagung-agungkan Prom Night, padahal sebetulnya...yah, all-in-all, biasa saja.
Juli berlalu dengan banyak tidur dan membereskan rumah. Berhubung saya orang Bandung, saya tidak repot mencari tempat kos atau semacamnya. ITB sudah sering saya kunjungi sejak kecil, apalagi saat ITB menjadi rumah kedua saya saat kelas 2 SMA. Satu hal yang berubah adalah perasaan bahwa sekarang saya sudah menjadi mahasiswa ITB yang belum mendapat Kartu Tanda Mahasiswa. Setiap melihat anak-anak pintar itu keluar dari gerbang kampus, saya tersenyum puas pada diri sendiri. Huh, arogansi anak muda!
Juli-Agustus 2009 adalah saat-saat adaptasi, yang ternyata masih berlangsung sampai sekarang. Saya menyaksikan pemandangan saat daftar ulang di Sabuga, bersama ribuan mahasiswa baru ITB 2009 yang memasang tampang cerah di wajah masing-masing. Tak ketinggalan para orang tua, bangga dan merasa sudah berhasil mengantarkan anak-anaknya ke ‘pintu gerbang menuju masa depan cerah’. Kata-kata tipikal pun sudah siap dilancarkan pada saudara, kerabat,dan rekan kerja: “Anak saya sekarang kuliah di ITB”.
Kehidupan saya di ITB bermula saat PROKM (semacam orientasi pengenalan kampus). Jujur saja, saat PROKM yang ada di pikiran saya hanya rasa bangga. Bangga bahwa saya termasuk salah satu yang disebutkan dalam spanduk klasik “Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bangsa”. Bangga karena saya bisa mengenakan jaket almamater Institut Terbaik Bangsa (‘terbaik’ itu relatif sih sebenarnya). Saat itu saya benar-benar seperti anak kecil yang diberi permen. Saya sama sekali tidak memikirkan tanggung jawab besar yang menanti saya di depan: Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater. yang ada hanya rasa bahagia bercampur sombong. Ah, tapi rasa itu memang normal kan?
Perjuangan sebenarnya baru mulai terasa saat memasuki masa-masa awal perkuliahan. Kehidupan kampus benar-benar mendewasakan saya dalam hitungan bulan. Baru pada saat kuliah di ITB inilah saya merasa bahwa Indonesia benar-benar majemuk. Saya yang terbiasa dengan budaya Sunda harus membiasakan diri dengan budaya daerah-daerah lain yang sangat beragam di Indonesia mini ini. Tegasnya orang Batak, medoknya orang Jawa, uletnya para keturunan Tionghoa, gaulnya orang Betawi. Hidup di ITB juga mengubah pandangan saya terhadap agama, terutama bagaimana saya bertoleransi. Dalam diri saya sendiri, saya juga harus memperkuat iman terhadap agama saya. Lucunya, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya baru benar-benar aware bahwa saya dilihat sebagai keturunan Tionghoa. Baru pertama kali dalam hidup, saya mengalami kesulitan untuk meyakinkan begitu banyak orang bahwa saya Islam. Memang sih, buyut-buyut yang berada 5 generasi di atas saya Kong Hu Cu dan saya keturunan Cina langsung, tapi toh kultur-kultur itu sudah lama hilang di keluarga, bahkan di generasi-generasi di atas saya. 12 tahun sekolah di sekolah negeri dimana mayoritas beragama Islam membuat saya kurang toleran terhadap agama lain, tapi di ITB, saya mau tidak mau harus menerima kenyataan itu. Dan ternyata prosesnya sangat menyenangkan. It’s really interesting to see the world from different perspectives and points of view!
Kehidupan kampus ITB tidak hanya dalam soal menghargai perbedaan, tapi juga tuntutan akademisnya. Saat baru masuk, saya dengan congkak menetapkan target IP semester satu 3.8. Dengan bekal menjadi langganan 3 besar selama 12 tahun, saya cukup percaya diri. Ternyata, di atas langit masih ada langit. Saya mengalami shock yang cukup berat saat menyadari bahwa posisi saya di kelas hanya rata-rata saja. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya benar-benar tergopoh-gopoh dalam mengikuti pelajaran. Fast-pace teaching tidak memperbolehkan teknik menyuapi lagi. Dosen tidak mau tau kita ngerti atau tidak, yang penting bahan kuliah tersampaikan. Saya yang selama ini terbiasa belajar sendiri tanpa diskusi bareng pun mau tidak mau mulai membiasakan diri belajar bersama. Tidak bisa lagi mengandalkan bimbingan belajar, les privat, kunci jawaban ulangan, bocoran soal, atau soal-soal responsi seperti pada waktu SMA. Kerja sama saat ujian juga sudah tidak berlaku lagi, ancamannya jelas dan tegas: Drop Out. Lagipula, teman-teman sekelas juga tampaknya sama sekali tidak tertarik untuk kerja sama saat UTS. All this sudden rapid change makes me irritated and frustrated. Nangis pun udah gak keitung lagi. Ditambah juga kebimbangan yang terus-menerus berlangsung tentang pemilihan jurusan dan berbagai konflik kepentingan yang akhirnya berakhir dengan penetapan tekad untuk masuk Teknik Kimia.
Di samping kegiatan akademik, kegiatan ekstrakurikular juga mulai menekan saya pada bulan-bulan terakhir 2009. As expected, I entered Student English Forum ITB. Tempat saya belajar berbagai macam hal saat kelas 2 SMA. Tempat saya menemukan free-thinkers yang mengubah pandangan konservatif-dogmatis yang ditanamkan ibu saya sejak kecil. Tempat saya menggila bersama berbagai macam orang gila. Ketika saya benar-benar menjadi insider, bukan sekadar anak SMA yang main-main ke ITB lagi, saya mau tidak mau mengalami kenyataan pahit bahwa ilmu saya sama sekali tidak cukup. Degradasi kemampuan berbahasa Inggris juga cukup mengganggu proses ini. Kemampuan analitik yang menurun dan ketergantungan yang berlebihan terhadap perfect teammates saat masih SMA juga sangat mengaffect performance saya. Di atas semua itu, saya juga harus bersaing secara sehat dan maju bersama-sama dengan debaters dari berbagai macam SMA di Indonesia, yang mungkin pernah melawan saya selama kompetisi di high school level. Selain SEF, saya juga ikut Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (Kokesma) untuk menambah ilmu enterpreneurship. Meskipun time management saya cukup buruk dan masih perlu diperbaiki lagi, tapi saya tidak setuju dengan nerdy geeks di luar sana yang merasa kuliah hanya tentang akademis saja. Memang sih, iri juga melihat nilai-nilai A mereka bertebaran dimana-mana, tapi saya masih merasa university life terlalu sayang untuk dilewatkan hanya dengan belajar saja. Terlalu banyak hal menarik di dunia yang jauh lebih nyata ini untuk dieksplor dan dialami sendiri.....
Tahun 2009 pun berakhir. Tahun yang penuh perjuangan dari awal sampai akhir. Sangat berbeda dengan 2008 yang penuh dengan canda tawa dan kebahagiaan hidup remaja SMA. Tahun 2009 berakhir dengan banyak pelajaran untuk mencapai kedewasaan, yang dicapai melalui kontemplasi tak terhingga dan petualangan menguak enigma. Tahun 2009 berakhir setelah menuai banyak drama penuh air mata, sekaligus juga tawa lepas yang membangkitkan setiap asa. Tahun 2009 dipenuhi dengan cinta dari orang-orang sekitar, senyum tulus yang terkembang di wajah manusia-manusia fana, dan kasih sayang Allah SWT dalam bentuk yang tidak disangka-sangka.
Terima kasih 2009. Usai sudah 365 hari penuh kejutan dan pembelajaran ini. Semoga tahun 2010 bisa menyajikan kisah yang lebih menarik untuk disimak: perbaikan di setiap sektor kehidupan.
Awal tahun 2009 saya jalani dengan kesadaran penuh (akhirnya) bahwa saya sudah sampai di penghujung masa Sekolah Menengah Atas. Masa SMA saya memang lebih berwarna di luar sekolah ketimbang di dalam sekolah sendiri (lucunya, “di luar sekolah” = ITB yang kini benar-benar menjadi kampus saya), tapi tetap saja SMA meninggalkan kesan yang cukup mendalam di diri saya. Saya ingat bagaimana emosi saya begitu tidak stabil di awal tahun, malam-malam dingin yang dilewatkan di bimbingan belajar, every-second-reminder dari guru-guru tentang “Ujian sebentar lagi”, momen-momen kesendirian yang mutlak ketika saya sadar bahwa bagaimanapun juga jalan hidup saya memang harus ditentukan oleh saya sendiri tanpa campur tangan orang lain, serta berbagai bentuk pengharapan yang dirangkai bersama teman-teman seperjuangan demi memasuki kampus impian. Kebimbangan mengenai masa depan, pertanyaan Quo vadis?, dan jeratan melankoli terus menghantui saya. Awal tahun 2009 adalah masa dimana saya mulai menerima diri apa adanya dan melihat Tuhan dari perspektif yang tidak biasa. Saya sangat berterimakasih pada kekuatan do’a dan kekhusyukan menjalani shalat, juga kepada teteh-teteh mentor serta teman-teman curhat yang berhasil mempertahankan kewarasan saya dalam masa-masa sulit.
Mendekati ujian-ujian, rasa tidak percaya diri mulai merasuk. Saya yang memang hanya menetapkan tujuan ke FTI ITB tanpa ada cadangan apa-apa mulai merasa ragu dengan pilihan serta kemampuan saya. PRA-UN yang nilainya agak jauh dari harapan juga menambah pesimisme saya. Godaan setan terus berdatangan dari mana-mana, terutama dunia debat yang waktu kelas 2 benar-benar menjadi fokus saya. Kadang-kadang saya mencari pelarian ke sana juga, curi-curi waktu untuk sekedar datang dan melatih adik kelas. Alhamdulillah, saya punya teman-teman seangkatan 2009 SMA Negeri 3 Bandung yang bisa membantu saya membuat skala prioritas. Saya ingat bagaimana mereka secara konstan menarik saya ke ‘jalan yang benar’, menyemangati di saat saya mulai menampakkan tanda-tanda untuk menyerah, dan memanjatkan do’a bersama-sama. Saya melihat setiap orang berjuang, tak peduli anak pintar atau anak geng, anak konglomerat atau anak biasa-biasa saja. Hawa-hawa ujian menebar dimana-mana, bahkan saat obrolan makan siang di kantin (“Ih jijik ada siput!”, “Oiya, siput itu kelas apa ya? Ordo apa? Reproduksinya gimana?”). Saya ingat waktu menjelang USM 1 ITB...saya ingat perjuangan mereka-mereka yang punya rezeki lebih untuk ikut USM 1 dan bagaimana mereka merasakan atmosfer persaingan memasuki kampus gajah yang seakan menjadi destinasi kultural bagi anak-anak SMA 3. Saya tentu saja tidak bisa menumpukan harapan pada USM 1 yang biayanya sangat di luar jangkauan itu. Mendekati Ujian Nasional, anak-anak Fakultas Kedokteran-minded yang gagal di SIMAK UI sebelumnya (tidak ada satu pun anak 3 yang masuk FK UI tahun ini), mulai berharap pada Ujian Masuk UGM, sebuah universitas yang santer digosipkan sudah mem-blacklist SMA 3. Pengumuman-pengumuman pun berdatangan. Saya melihat bagaimana bahagianya wajah-wajah orang yang diterima di STEI, FTI, dan sederet fakultas lainnya di ITB. Saya melihat wajah bahagia teman-teman yang diterima di FK UGM. Saya melihat kebimbangan teman-teman yang lulus berbagai macam tes masuk universitas hanya untuk berjaga-jaga. Saya melihat kekecewaan dan kata-kata “Jangan menyerah” berhamburan. Saya ingat saya curhat ke kakak betapa saya berharap bisa menjadi salah satu orang yang diterima di ITB dan bagaimana kakak selalu berhasil membuat saya tersenyum dengan uplifting and inspiring wordsnya. Saya ingat banyak malam penuh tangisan sambil ngulik rumus. Saya ingat countless e-mail yang saya kirimkan ke sahabat saya, yang pada waktu itu ikut program YES ke Amerika. Setiap saya mulai merasa down, saya ingat orang tua saya dan harapan yang mereka gantungkan pada saya.
Ujian Nasional datang dengan berbagai versi kunci jawaban yang tersebar melalui SMS sehari sebelumnya. Entah siapa yang mengirimkan SMS-SMS tersebut, tapi saya sama sekali tidak tertarik untuk menggunakannya. Buat apa? Meskipun transkrip nilai Ujian Nasional saya tidak kepala 9 semua, tapi saya puas karena itu benar-benar hasil pemikiran saya sendiri. Saya puas karena saya sudah berjuang sebatas kemampuan saya. Malam sebelum ujian pertama (Biologi, Bahasa Indonesia) saya tidur dengan kepala dipenuhi nama-nama latin dan anatomi tubuh manusia, sampai saya hapal warna spidol dan bentuk panah apa saja yang saya pakai di catatan saya.
Right after ujian nasional, saya mengalami ujian dalam bentuk lain. Hmm, memang tidak terlalu menyakitkan, but really, ternyata letting go of an ex itu susah juga ya? Selama setahun hal sensitif ini tergantung-gantung, sampai akhirnya salah satu pihak membuat keputusan final. Untunglah hal ini tidak terlalu mengganggu, dan ternyata semuanya bisa diselesaikan dengan baik. I had a more important thing to deal with. Setelah Ujian Nasional, tibalah masa persiapan menghadapi USM ITB Terpusat. Saya ikut program intensif 3 minggu di salah satu bimbel. Saya tidak tau apa yang merasuki pikiran saya untuk berbuat nekat, tapi saya akhirnya hanya memilih FTI sebagai satu-satunya pilihan di formulir pendaftaran. Nekat, sungguh, ditambah lagi saya tidak punya cadangan apapun untuk kuliah. Satu hal yang patut disyukuri adalah, saya tidak merasakan sindrom putus asa menjelang ujian. Perasaan deg-degan hanya saya rasakan pada hari pertama ujian, ditambah lagi saya terlambat akibat jalan yang subhanallah, macet sekali. Masuk dari gerbang belakang padahal saya ujian di Basic Science A Lantai 4. Sampai sekarang, pemandangan ribuan anak SMA yang memadati ITB tidak bisa saya lupakan. Benar-benar seperti mencoba meloloskan diri dari lubang jarum.
Masa-masa menunggu pengumuman kelulusan USM ITB benar-benar masa paling penuh ketidakpastian dalam hidup saya. Saya ikut intensif SNMPTN, tapi saya hanya belajar di bimbel saja karena saya sama sekali tidak berharap ikut SNMPTN. Jiper duluan! Dua minggu penuh ketidakjelasan itu akhirnya berakhir tanggal 12 Juni 2009, pukul 18.12. Saya ingat betapa shocknya saya menerima SMS dari Pak Ang, guru fisika saya di SSC yang sangat amat sering menginspirasi saya.
“Selamat ya nak! Di FTI ya?”
Sumpah, saya tidak bisa melukiskan kebahagiaan saat saya melihat pengumuman kelulusan itu dengan mata kepala saya sendiri.



Bulan Juni berlalu dengan bahagia, tapi kompensasinya adalah saya tidak bisa maksimal mempersiapkan Prom Nine (nama acara Prom SMA 3 09), 23 Juni 2009. Ah, mungkin saya hanya terpengaruh media-media Barat yang begitu mengagung-agungkan Prom Night, padahal sebetulnya...yah, all-in-all, biasa saja.
Juli berlalu dengan banyak tidur dan membereskan rumah. Berhubung saya orang Bandung, saya tidak repot mencari tempat kos atau semacamnya. ITB sudah sering saya kunjungi sejak kecil, apalagi saat ITB menjadi rumah kedua saya saat kelas 2 SMA. Satu hal yang berubah adalah perasaan bahwa sekarang saya sudah menjadi mahasiswa ITB yang belum mendapat Kartu Tanda Mahasiswa. Setiap melihat anak-anak pintar itu keluar dari gerbang kampus, saya tersenyum puas pada diri sendiri. Huh, arogansi anak muda!
Juli-Agustus 2009 adalah saat-saat adaptasi, yang ternyata masih berlangsung sampai sekarang. Saya menyaksikan pemandangan saat daftar ulang di Sabuga, bersama ribuan mahasiswa baru ITB 2009 yang memasang tampang cerah di wajah masing-masing. Tak ketinggalan para orang tua, bangga dan merasa sudah berhasil mengantarkan anak-anaknya ke ‘pintu gerbang menuju masa depan cerah’. Kata-kata tipikal pun sudah siap dilancarkan pada saudara, kerabat,dan rekan kerja: “Anak saya sekarang kuliah di ITB”.
Kehidupan saya di ITB bermula saat PROKM (semacam orientasi pengenalan kampus). Jujur saja, saat PROKM yang ada di pikiran saya hanya rasa bangga. Bangga bahwa saya termasuk salah satu yang disebutkan dalam spanduk klasik “Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bangsa”. Bangga karena saya bisa mengenakan jaket almamater Institut Terbaik Bangsa (‘terbaik’ itu relatif sih sebenarnya). Saat itu saya benar-benar seperti anak kecil yang diberi permen. Saya sama sekali tidak memikirkan tanggung jawab besar yang menanti saya di depan: Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater. yang ada hanya rasa bahagia bercampur sombong. Ah, tapi rasa itu memang normal kan?
Perjuangan sebenarnya baru mulai terasa saat memasuki masa-masa awal perkuliahan. Kehidupan kampus benar-benar mendewasakan saya dalam hitungan bulan. Baru pada saat kuliah di ITB inilah saya merasa bahwa Indonesia benar-benar majemuk. Saya yang terbiasa dengan budaya Sunda harus membiasakan diri dengan budaya daerah-daerah lain yang sangat beragam di Indonesia mini ini. Tegasnya orang Batak, medoknya orang Jawa, uletnya para keturunan Tionghoa, gaulnya orang Betawi. Hidup di ITB juga mengubah pandangan saya terhadap agama, terutama bagaimana saya bertoleransi. Dalam diri saya sendiri, saya juga harus memperkuat iman terhadap agama saya. Lucunya, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya baru benar-benar aware bahwa saya dilihat sebagai keturunan Tionghoa. Baru pertama kali dalam hidup, saya mengalami kesulitan untuk meyakinkan begitu banyak orang bahwa saya Islam. Memang sih, buyut-buyut yang berada 5 generasi di atas saya Kong Hu Cu dan saya keturunan Cina langsung, tapi toh kultur-kultur itu sudah lama hilang di keluarga, bahkan di generasi-generasi di atas saya. 12 tahun sekolah di sekolah negeri dimana mayoritas beragama Islam membuat saya kurang toleran terhadap agama lain, tapi di ITB, saya mau tidak mau harus menerima kenyataan itu. Dan ternyata prosesnya sangat menyenangkan. It’s really interesting to see the world from different perspectives and points of view!
Kehidupan kampus ITB tidak hanya dalam soal menghargai perbedaan, tapi juga tuntutan akademisnya. Saat baru masuk, saya dengan congkak menetapkan target IP semester satu 3.8. Dengan bekal menjadi langganan 3 besar selama 12 tahun, saya cukup percaya diri. Ternyata, di atas langit masih ada langit. Saya mengalami shock yang cukup berat saat menyadari bahwa posisi saya di kelas hanya rata-rata saja. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya benar-benar tergopoh-gopoh dalam mengikuti pelajaran. Fast-pace teaching tidak memperbolehkan teknik menyuapi lagi. Dosen tidak mau tau kita ngerti atau tidak, yang penting bahan kuliah tersampaikan. Saya yang selama ini terbiasa belajar sendiri tanpa diskusi bareng pun mau tidak mau mulai membiasakan diri belajar bersama. Tidak bisa lagi mengandalkan bimbingan belajar, les privat, kunci jawaban ulangan, bocoran soal, atau soal-soal responsi seperti pada waktu SMA. Kerja sama saat ujian juga sudah tidak berlaku lagi, ancamannya jelas dan tegas: Drop Out. Lagipula, teman-teman sekelas juga tampaknya sama sekali tidak tertarik untuk kerja sama saat UTS. All this sudden rapid change makes me irritated and frustrated. Nangis pun udah gak keitung lagi. Ditambah juga kebimbangan yang terus-menerus berlangsung tentang pemilihan jurusan dan berbagai konflik kepentingan yang akhirnya berakhir dengan penetapan tekad untuk masuk Teknik Kimia.
Di samping kegiatan akademik, kegiatan ekstrakurikular juga mulai menekan saya pada bulan-bulan terakhir 2009. As expected, I entered Student English Forum ITB. Tempat saya belajar berbagai macam hal saat kelas 2 SMA. Tempat saya menemukan free-thinkers yang mengubah pandangan konservatif-dogmatis yang ditanamkan ibu saya sejak kecil. Tempat saya menggila bersama berbagai macam orang gila. Ketika saya benar-benar menjadi insider, bukan sekadar anak SMA yang main-main ke ITB lagi, saya mau tidak mau mengalami kenyataan pahit bahwa ilmu saya sama sekali tidak cukup. Degradasi kemampuan berbahasa Inggris juga cukup mengganggu proses ini. Kemampuan analitik yang menurun dan ketergantungan yang berlebihan terhadap perfect teammates saat masih SMA juga sangat mengaffect performance saya. Di atas semua itu, saya juga harus bersaing secara sehat dan maju bersama-sama dengan debaters dari berbagai macam SMA di Indonesia, yang mungkin pernah melawan saya selama kompetisi di high school level. Selain SEF, saya juga ikut Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (Kokesma) untuk menambah ilmu enterpreneurship. Meskipun time management saya cukup buruk dan masih perlu diperbaiki lagi, tapi saya tidak setuju dengan nerdy geeks di luar sana yang merasa kuliah hanya tentang akademis saja. Memang sih, iri juga melihat nilai-nilai A mereka bertebaran dimana-mana, tapi saya masih merasa university life terlalu sayang untuk dilewatkan hanya dengan belajar saja. Terlalu banyak hal menarik di dunia yang jauh lebih nyata ini untuk dieksplor dan dialami sendiri.....
...Masa awal perkuliahan terasa berjalan dengan begitu cepat. Tiba-tiba saya akan mendapat Indeks Prestasi pertama saya yang entah berapa, dan tidak ada kemungkinan mendapat 3.8 seperti target awal saya. Tiba-tiba saya akan menghadapi kompetisi debat varsity level pertama saya, IVED, dalam hitungan minggu. Tiba-tiba saya akan menghadapi semester 2 dengan berbagai kepadatan kuliahnya dan kesempatan-kesempatan terakhir untuk mendulang nilai demi masuk Teknik Kimia. Hidup di tengah tekanan dan jadwal harian yang hectic seperti ITB ini membuat waktu terasa sangat berharga, dan sekaligus juga sangat cepat berlalu.
Tahun 2009 pun berakhir. Tahun yang penuh perjuangan dari awal sampai akhir. Sangat berbeda dengan 2008 yang penuh dengan canda tawa dan kebahagiaan hidup remaja SMA. Tahun 2009 berakhir dengan banyak pelajaran untuk mencapai kedewasaan, yang dicapai melalui kontemplasi tak terhingga dan petualangan menguak enigma. Tahun 2009 berakhir setelah menuai banyak drama penuh air mata, sekaligus juga tawa lepas yang membangkitkan setiap asa. Tahun 2009 dipenuhi dengan cinta dari orang-orang sekitar, senyum tulus yang terkembang di wajah manusia-manusia fana, dan kasih sayang Allah SWT dalam bentuk yang tidak disangka-sangka.
Terima kasih 2009. Usai sudah 365 hari penuh kejutan dan pembelajaran ini. Semoga tahun 2010 bisa menyajikan kisah yang lebih menarik untuk disimak: perbaikan di setiap sektor kehidupan.





4 comments:
marsha, selamat ya diterima di FTI. i really enjoyed reading your story lho. :) seems fun.
ditunggu entry2 lain yg ga kalah menariknya :)
all the best wishes for 2010 ya dear :)
Thank you viin :)
all the best 4 u too :D
marshaaa...
waaw, amazingnya postingmu ini.. hhe
semangat marsh! :D
semangat kuliah di institut terbaik bangsa itu, tapi jangan ketularan arogansinya orang-orang arogan yaaa.. hehehe
indonesia itu luas, apalagi dunia, tapi bumi itu cuma setitik debu di jagat raya-nya Allah. :)
"Indonesia itu luas, apalagi dunia, tapi bumi itu cuma setitik debu di jagat raya-nya Allah. :)"
Setuju banget lah sama maidin! Hehe. Makasih yaaa, maidin juga semangat ya! :D
Post a Comment