Metamorphoself of A Human

Thursday, July 9, 2009
Setiap hari minggu, gw selalu nyempetin baca suplemen Peer Kecil di HU Pikiran Rakyat. Not really for my age sih, tapi gw kalo baca koran emang baca semuanya, ga ada kecuali.
Di suplemen koran itu, gw sering liat kolom yang isinya tentang anak-anak yang punya prestasi, be it di bidang akademik maupun non-akademik. Gw sering liat anak cewe 8 taunan yang juara lomba fotomodel atau jadi model cilik, terus dia bilang di koran itu, “Kalau udah besar, aku pengen jadi model sekaligus dokter”. And here the story begins...

Gw pernah ngalamin jadi anak kecil. Ya iyalah. Temen-temen gw pun dulunya anak kecil, bahkan kalian, para pembaca (ceilah) juga pasti dulunya anak kecil. Gw liat perubahan temen-temen gw: SD, SMP, SMA, dan sekarang gw udah mau masuk kuliah bulan Agustus ntar. Ada yang berubah dari mereka semua. Yang jelas terlihat adalah perubahan fisik, yang cowo nambah tinggi, yang cewe nambah tinggi, semuanya diikuti perubahan wajah, bentuk tubuh, juga suara. Ya ya, hormon-hormon pertumbuhan menjalankan fungsinya dengan baik. Ditambah lagi perubahan sikap, mental anak-anak yang dulunya culun berubah jadi sifat-sifat khas remaja yang moody, ga mau diatur, merasa diri sendiri udah hebat dan mulai ngelawan orangtua, dsb.
Terus apa hubungannya sama tulisan pembuka soal anak kecil yang pengen bermulti-profesi di atas?

Gw ngerasa geli aja, betapa mudahnya anak kecil ngelontarin pernyataan dan bermimpi. Betapa mudahnya. Ga ada konsekuensi yang harus dipikirkan, ga ada tanggung jawab yang harus ikut dipikul, ga ada real steps yang harus direncanakan. Faktanya, jadi model sekaligus dokter bukan pekerjaan yang gampang. Sori ya, temen-temen gw yang dari kecil udah centil-centil dan juara fotomodel ini dan itu pada akhirnya ya jadi model. Bukan model plus dokter. Dunia modelling identik dengan cewe-cewe cantik yang (sori) kurang pintar, at least mereka bukan orang-orang yang suka bergelut dengan buku-buku macam Fundamentals of Physics atau Textbook of Medical Physiology. Kakak gw kuliah di FK, dan gw tau banget waktu buat ga baca buku itu sangat amat sedikit. Anak kecil mana pernah kepikiran? Tapi ya, ga bisa disalahin juga sih si anak kecil itu. Semua anak kecil senang bermimpi, dan itu akan membantu mereka menemukan jalan mereka sendiri pada akhirnya. I personally really loved dreaming in my childhood times. Pada saatnya, impian itu perlu dipilah-pilah dan ditentukan yang mana yang akan diusahakan untuk jadi nyata.

Pemikiran ini ngebawa gw ke hal lain, bahwa masa kecil dan masa remaja adalah saat-saat yang tepat, sekaligus krusial, untuk menentukan akan jadi apa kita saat kita dewasa. Banyak kan perubahan-perubahan tak terduga yang terjadi di sekitar kita? People change, even the ones you thought you knew most. Orang tua dan lingkungan sekitar memiliki peranan yang signifikan untuk membentuk seorang anak, yang diibaratkan selembar kertas putih yang siap ditulisi, digambari, dicoret-coret, dibuang, atau dibakar. Semuanya butuh proses dan perencanaan yang matang, tentu saja, untuk memberikan hasil yang diharapkan.

A relevant example of this is myself. My mother has perfectly shaped me into hers. I am a perfect copy of my mom. Cara gw menyelesaikan masalah, cara gw bikin skala prioritas, cara gw memimpin, cara gw sekolah, bahkan pelajaran yang gw kuasai dan nggak pun sama dengan apa yang mama kuasai dan nggak. Gw gak menyesali itu semua. I’m proud to be mom’s child, but I’m NOT her. Ada beberapa nilai yang gak sama antara gw dan mama. What or who did this? Lingkungan sekitar gw. Orang-orang lain yang berkontribusi dalam kehidupan gw: temen, saudara, keluarga, media cetak maupun elektronik, agama, dll. Tapi inti diri gw adalah inti diri yang ditanamkan mama sejak gw kecil. Gw udah punya basic yang kuat, dan semua itu emang udah direncanain sama mama.

Ada saat-saat tertentu dimana gw memberontak pengen bikin diri gw apa adanya, yang gak tersentuh sama mama. Puncaknya ya kuartal pertama tahun 2007. Setelah itu, terutama setelah April 2008, I discovered who I really am, and who i want to be.

Ternyata gak jauh dari apa yang dipengenin mama dan coba dibentuk olehnya, cuma dengan beberapa modifikasi yang merupakan win-win solution bagi kedua belah pihak :). Inilah wujud nyata hasil metamorphoself gw yang belum sempurna (gw baru masuk tahap dewasa awal). Kepribadian yang gw rasa pas buat gw.

Gw yakin, metamorphoself gak cuma terjadi di gw aja. Banyak contoh-contoh nyata yang bertebaran di kehidupan gw. Yang waktu SD pinter banget, pas SMP mulai berubah setelah mengenal pacar pertamanya. Yang pas SMP pinter dan culun pun, pas SMA mulai anjlok setelah gabung sama geng sekolah terkenal. And many....too many cases like that. There’s a lot more...better, or worse.

Menurut gw, jalan yang aman untuk bisa bermetamorfosis dengan oke adalah dengan punya prinsip. Dengan punya prinsip, kita bisa punya basic yang kuat yang pada akhirnya akan ngebantu kita untuk fit in the society. Prinsip itu kalo bisa sih prinsip yang baik. I mean, bukannya prinsip slenge’an kayak “Ini hidup gue, gue bebas melakukan apapun yang gw mau dan orang lain jangan nge-interfere, for their own good”. That’s not really convenient, believe me. Terlalu banyak norma dan orang yang harus dimusuhi. Lagipula, apapun disini berarti betul-betul apapun, kan? Apapun, bahkan yang ngehancurin diri sendiri kayak make narkoba atau jadi pelacur? Gw banyak menemukan orang yang “berprinsip” kayak gini, terutama anak muda. Ya well, dalam perspektif gw, prinsip itu salah. Freedom should be limited, to some extent, for people’s own good. Masukan dari dua sisi itu perlu. Karena, saat kamu mendengarkan apa yang ingin kamu dengarkan, kamu tidak akan belajar. Sebaliknya, saat kamu mendengarkan, atau terpaksa mendengarkan, apa yang seharusnya kamu dengarkan, kamu akan belajar. Well, emang gak gampang sih buat diaplikasikan, tapi setidaknya kalo kita berusaha, kita akan terhindar dari pandangan satu arah yang bisa aja membahayakan.

Selain punya prinsip, ngedengerin apa kata orang tua juga perlu. Yah ga bisa disangkal sih, orang tua yang normal pastinya pengen yang terbaik buat anaknya. Apalagi mereka udah pernah ngalamin apa yang kita alamin—hal ini menjelaskan kenapa trik-trik bohong kita sering ketauan. Gw pernah kena batunya gara2 ngelawan orangtua, terlalu banyak bukti nyata. Tiba-tiba sakit lah, tiba-tiba stres ga jelas, dan pastinya ngerasa berdosa...
Too bored to use your ears only? Read books. Banyak buku-buku self-help yang bisa dijadiin referensi buat hidup lebih baik, dan bisa membantu kita dalam bermetamorfosis. Emang sih kadang2 ada buku yang standar banget dan sarannya kurang oke, tapi percayalah, masih banyak buku lain yang bisa ngebantu. Bukan hanya dari buku self-help, dari novel atau jenis buku lain juga bisa. Oh iya, jangan lupain juga soal agama. In many cases, ajaran agama sangat berguna buat ngebantu ngeluarin anak-anak muda dari dark age.

Well, I think that’s all about metamorphoself in my perspective. Gak gampang memang untuk mencapai metamorphoself sempurna. Gw juga masih belajar dan berubah sedikit demi sedikit. Hope this writing helps, especially if you feel that you’re alone. Remember, many people in this world share the same feelings as you feel, the only thing matters is whether you wanna speak up and learn from mistakes—made by yourself or others.

0 comments: