Klise

Saturday, June 26, 2010
Memangnya siapa yang benar-benar mengerti cinta?

Penjelasan logis macam apa yang bisa menjelaskan mengapa kita terus-menerus jatuh di tempat yang sama untuk hal yang sama? Aku tidak mengerti mengapa saat aku merasa begitu tersakiti sehingga berkata tidak ingin mencintai lagi, justru proses mencintai itu terasa berjalan dengan mulus, seolah tanpa cela. Seakan-akan seluruh komponen alam semesta berusaha menjerumuskanku. Lebih anehnya lagi, aku menerimanya dengan tangan terbuka, dengan senyuman, dengan harapan bahwa segalanya akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Segala konsekuensi atas keteledoran itu telah terbentang dan terasa sangat familier, tapi semuanya dimentahkan oleh kata hati yang bertindak sebagai pemimpin yang sangat salah di saat-saat seperti ini.

Tidak ada yang bisa benar-benar diharapkan dari senyuman dan sapaan biasa. Gesture yang sangat alami dan tidak perlu dilebih-lebihkan. Sedikit tambahan bumbu "Good night, sleep well" yang langsung mengaktifkan rasa aneh entah darimana. Mengapa ketika jatuh cinta, segala hal yang ia ucapkan, lakukan, perlihatkan terasa sempurna, seakan ia memiliki daya tarik magis terhadap semua keindahan?

Satu hal yang sangat kupahami adalah aku tidak pernah berhenti berharap. Masa bodoh bahwa pengharapan itu menyakitkan, bahwa aku memiliki kesadaran penuh terhadap kandasnya kisah ini di masa depan, yang aku yakin akan terjadi. Apa gunanya melawan perasaan bahagia bila itu bisa mengkompensasi apa yang terjadi sesudahnya, sebelumnya, atau periode-periode kosong penuh kebimbangan? Perlukah lagi penolakan atas rasa yang jelas-jelas menjalar ke seluruh saraf?

Aku ingin berpikiran selayaknya orang waras yang bisa berpikir jernih selamanya, tanpa irasionalitas yang hanya bisa ditimbulkan oleh cinta. Terlalu banyak spekulasi dan kesalahan yang menyakitkan, terlalu banyak ruang abu-abu yang tidak bisa ditembus akal sehat, terlalu banyak derai air mata maupun seringaian akibat tusukan ke-sekian. Mereka yang tidak bisa mencintai dan sanggup melawan segala bentuk penetrasi itu adalah orang-orang hebat dengan hati batu. Tapi mungkin hidup tidak akan sama lagi bagiku seandainya aku menjadi salah satu diantara mereka. Jadi buat apa mengeluh?

Karena aku lelah, tolol. Aku lelah atas fakta betapa sulitnya mencari pasangan sejati. Begitu banyak halangan yang timbul saat aku merasa telah menemukan orang yang tepat, padahal standar 'tepat' itu sendiri berubah-ubah seiring bertambahnya usiaku. Beda agama, beda umur, beda pendidikan, beda gaya hidup, beda ini, beda itu. Dan yang paling penting, ia tidak mencintaiku. Habis perkara.

3 comments:

{ Makudin } at: June 27, 2010 11:36 AM said...

ugh, sangat menusuk, sayang..

hmm..
he'll come.
just believe.
if you don't believe me, it's ok.
you just have to believe Allah.

semangaat, marsh!

*serasa saya sudah menikah saja, inii.. *_*
hheu, tapi itu yang saya percaya, marsh.. :)

{ Marsha } at: July 2, 2010 12:42 AM said...

Hehe, terimakasih maidiin.
Semoga orang itu cepet dateng ya. tapi semoga aku bisa mencintai Allah lebih daripada dia. :)

maidin udah ada rencana nikah yaa? ahaha :D

{ Makudin } at: July 4, 2010 6:30 PM said...

:)
iya marsh!
lebih bagusnya lagi, cinta kita ke dia itu membuat kita tambah tambah cinta sama Allah.

hahaha, belum ada koo.. :p