Setiap orang, saya kira, punya seorang atau beberapa teman yang dianggap "lebih penting" dari yang lainnya. Yah..bukan lebih penting sih. Lebih dekat lah, lebih enak diajak ngobrol, lebih segala rupa, makanya disebut BEST FRIEND (atau, kalo beberapa, best friends). Setiap orang sewajarnya juga pasti merasa sedih kalo kehilangan si teman terbaik ini.
Well, I am now losing a best friend. She's Egalita Irfan, dan dia akan pergi ke USA selama setaun karena ikut program AFS/YES. She'll be back next year sih, Insya Allah, tapi ya entah kenapa I just feel it's sooooo hard to let her go. Knowing that I can't meet her for one year.
A friend of mine said to me "consider this is a test that you have to go through". Yah okelah, tapi this is a MENTAL TEST then, hhuhu.
Setelah sekarang gw mikir2, kenapa ya gw begitu ngerasa kehilangan dia? Padahal gw baru ketemu dia kelas 1 SMA, yaitu taun 2006. Deket bangetnya paling baru sekitar 1.5 tahun, tapi kok rasanya gimanaaaa gitu.
Pertama kali ngeliat Ega di kelas X-3 SMAN 3 Bandung taun 2006, gw sama sekali ga ada niat untuk nemenin dia. Pokonya in my eyes she was conservative, pelit senyum, mana pas hari pertama kepsek masuk dan nanya suatu pertanyaan (ngobrol2 gitu) dia jawabnya serius banget, dengan gaya orang hukum gitu nyaahaahaa xP. Gw sampe bilang ke Kiki temen sebangku gw, "Ki, aku mah males da nemenin orang itu". Dan si Kiki bilang sebagai balasan, "Iya ah aku juga, kayaknya orangnya ga bisa dibecandain".
Nah, suatu hari gw dan Kiki duduk di pojok depan deket jendela. Terus si Egalita ini dan 2 orang lagi bernama Ayu dan Sizi (these people are still being my close friends in High school,including Kiki) nyamperin kami dan ngajakin jajan ke Bazaar (sebutan untuk kantin sekolah gw).
Lalu entah gimana tiba2 kami berlima jadi deket.
.jpg)
** Anak2 kelas 1 SMA. Rambut gw masih panjang, Ega yg pake kerudung.
*Note that KESAN PERTAMA EGA ITU DECEIVING. Ternyata dia adalah seorang makhluk gila yang bodor. Jauh dari KONSERVATIF. LOL. xD
November 2006, datanglah babak baru kehidupan gw (allaaah) dimana gw dan Ega mulai mengenal dunia perdebatan yang so freaking crazy ini. Anak2 kelas 1 yang ga tau apa2, ga pernah diajarin dasar debat apapun sama senior, tiba2 ikut lomba dan dibantai habislah kami. But it was not that bad juga sih menurut gw untuk seorang yg bahkan ngomong inggris pun patah2 seperti gw waktu itu, kemudian saat maju ke depan jadi tiba2 lancar ngomong xD
Selama taun 2007, titik nadir kehidupan gw, Ega was there to talk about almost everything. Mungkin karena kami sama2 debater jadi apa yang diomongin pun nyambung, gw mulai cerita tentang segala macem, apalagi tentang kestressan gw soal konflik yang terus terjadi antara gw dan mama. But the relationship wasn't as deep as the following months, yang akan gw ceritain later.
Saat kami berdua naik 1 tingkat jadi senior setengah alias kelas 2 SMA, we decided not to repeat the same mistake that our seniors did. We decided to, at least, gave the juniors basics of debating with our limited knowledge of beginners, since we didn't have any coach at that time. Registrasi pun dibuka dan gile busyet formulir pendaftaran berjumlah lebih dari 150 lembar habis tuntas dalam sehari.
Next step, kami bikin seminar debat di ruang AVI (Audio Visual). Presentasinya dibikin sama gw, mengumpulkan bahan2 dari presentasi2 yg suka ditonton waktu technical meeting lomba-lomba sebelumnya, dilatarbelakangi foto2 kami selama kompetisi xP
Well, ruang AVI berkapasitas sekitar 50-70 orang itu penuh. They were excited, seeing from their faces, although mereka keliatannya gak begitu ngerti apa yang diomongin. But at least mereka dateng dan ikut sampe akhir, ya lumayanlah.
Pertemuan pasca-presentasi was surprising. Dibagi 2 shift, shift pertama untuk cewek dan shift kedua untuk cowok. Jumlahnya mencapai +/- 2 kelas, so it was estimated that 100 people were joining. Kami sebagai kelas 2 yang cuma 4-5 orang tentunya seneng banget, padahal diperkirakan mereka pada gak akan tertarik lagi setelah ngeliat presentasi.
Yah, meskipun pada akhirnya angkatan 2010 adek kelas kami itu cuma 2 orang yang bener2 aktif.
Hmm...melenceng dari pokok bahasan. :P
Pas kami kelas 2 itu, secara ajaib kami dapet seorang coach bernama Luthfi A. (what is A? RAHASIA dungs, wahaha!) yang biasa dipanggil UPHIE. Sejak itu pula kami mulai dateng ke ITB untuk latihan debat, dan sejak itu pula gw dan Ega saling bahu-membahu dalam menghadapi segala "masalah" yang muncul di kemudian hari sejak kita dateng ke ITB, yang bikin kita saling deket dan membutuhkan satu sama lain.
Well, ITB banyak banget berkontribusi sama kedeketan kami.
Di ITB kami nemuin banyak pelajaran hidup yang baru. Serasa jadi lembaran kosong yang siap ditulisi. Kami belajar banyaaaaaaakkkkkkkk hal. Tentang spoiled-thingy (melepaskan diri dari kemanjaan yang melekat dalam diri, kami belajar untuk jadi lebih dewasa dalam menyikapi berbagai masalah), tentang debate itself (apa itu elaboration, cara ngestructurize speech, cara bikin argumen yang bagus, vocal point analysis, how to deliver a speech well, etc.). The result of these including munculnya istilah-istilah baru dalam kehidupan kami ber2, dan pola pikir kami yang berkembang…selain tentunya menjadi “Big Girls Don’t Cry” xD
Gara2 ITB juga, kami jadi punya yang disebut "tempat kenangan" yaitu pelataran Campus Center Barat, persis di seberang tulisan Fakultas Teknologi Industri (fakultas yg pengen gw masukin, hehehe, amin). Tempat kenangan ini...tempat kami nangis bareng, ketawa2, sharing segala macem, berbagi perasaan kami terhadap apapun yang terjadi dalam hidup, main kartu, dan banyaaaaaaakkkkkk lagi yang udah terjadi di tempat pewe berangin sejuk ini...

Synchronization kami gak berhenti sampe situ. Pada akhirnya kami juga punya minuman favorit saat bersama yaitu kopi. Belakangan ini ganti jadi mocha float di PIZZA HUT DAGO (huehehe). Selain minuman, kami juga punya satu hal yang paling asyik kalo dilakuin bareng2, which is...
KARAOKE.
Huahahahaha. Gara2 ketularan Uphie sang coach kami tercinta.
Satu hal yang paling gw suka dari Ega adalah kemampuan dia untuk memberi saran secara objektif, disamping our synchronization dalam banyak hal (misal: suatu saat gw ngomongin perasaan gw tentang si A. Perasaan yg gw rasain itu, dirasain PERSIS sama oleh Ega. Hal lain: waktu itu kami pernah ngomongin tentang orang yang kami suka. Dan anehnya 2 orang itu punya kesamaan, dan cara kami ngomongin mereka pun sama).
Well, now she's going to USA with her bags packed. She's ready to go. But that's life. It must go on, it will never wait for us, it's not spoiling us with an everlasting happiness. Seperti pepatah lama yang mengatakan Hidup itu seperti roda yang kadang berada di atas dan kadang berada di bawah, tidak selamanya kita selalu bahagia. Suatu pertemuan mempunyai komplikasi logis yang dinamakan perpisahan, dan itu bukan sesuatu yang bisa dihindari.
I know her goal of going to USA, why ever she wants to go there, to reach her own dream. And I completely know what I'm going to do next. We are trying to reach our dreams right now, in a different way.
+-+Copy.jpg)
Although the world tears us apart, we're still together in our hearts.
3 comments:
GW KANGEEEEEEEEEEEN!!!!
SUMPAH GW KANGEEEN!!!!!!!
ANJISSS
PENGEN PULAAAANG!!!!
argh...sabar, honey. u have mukee, u have ur -sounds great- host family, u have a new life, also new challenges to deal with. i'm still here, with all the people u love, even that weird boyfriend of yours (huhahahaha).
kmaren nyokap lu nlp gw. isi teleponannya, tanya nyokap lu aja deh. hehe.
have fun, don't even shed a tear :)
we'll be strong, both of us, like what we were taught to be.
Haii. Laporkan ke gw dengan lengkap gimana perkembangan newbies 3.. Immediately!
Post a Comment