Saya akui, saya tidak begitu peduli dengan fenomena Laskar Pelangi, maupun “bumbu” A True Story yang melingkupinya. Saya menganggap itu hanya sebagai angin lalu saja, hiburan menarik saat mendengarkan orang ramai membicarakan Andrea Hirata di tengah hiruk pikuk gosip selebriti tanah air. Mendengarkan sepotong-sepotong pembicaraan orang-orang soal kisah perjuangan anak-anak Belitong ini sudah cukup bagi saya. Saya hanya menganggap Laskar Pelangi sebagai bagian lain dari kehidupan saya yang lurus-lurus saja, bahwa ada sekelompok anak yang ingin mengejar mimpi di suatu pulau nun jauh di
Itulah sebabnya mengapa saya tercengang sendiri malam ini.
Masih dalam suasana lebaran (sekarang tanggal 3 Oktober), tante dan om saya melontarkan ide untuk menonton Laskar Pelangi. Maka kami sekeluarga (besar) pun berangkatlah ke sebuah bioskop XXI di Bandung Utara. Saya hanya mengikuti arus saja, mengisi malam yang sepi. Lagipula saya sudah lama dilingkupi skeptisisme terhadap film-film
Terus terang, saya jarang sekali menangis karena film atau buku atau artikel. Tidak pernah, malah. Sekalinya saya menangis adalah saat menonton film Click di bus pariwisata yang merupakan bagian dari Tur Budaya kelas 2 SMA. Itu pun hanya ada air mata menggenang sedikit, dan hanya pada bagian paling akhir dari film.
Namun Laskar Pelangi benar-benar meruntuhkan penghalang air mata saya. Saya mencatat sedikitnya 5 kali ada air mata tergenang, disertai bunyi srot-srot menyedot hidung. Dari segi acting pemain memang tidak terlalu spektakuler, biasa-biasa saja, meskipun anak-anak asli Belitong yang berperan sebagai Laskar Pelangi berhasil menyajikan banyak good jokes yang segar. Ah, toh kita punya aktor-aktris
Mari kita analisis sedikit kenapa saya bisa sampai menangis.
Saya rasa alasan utamanya adalah kekontrasan yang terlihat antara anak-anak Laskar Pelangi dengan kehidupan saya sendiri (yang, mungkin, bisa saja dibayangkan menjadi salah satu anak SD PN Timah yang well educated). Entah kenapa sesuatu dalam diri saya merasa menciut, hampir malu melihat kegigihan yang ditunjukkan oleh anak-anak desa itu (meskipun saya sadar sepenuhnya bahwa itu hanya film, tapi..yah, it’s a true story right?). Melihat mereka sangat bersemangat ke sekolah, membayangkan saya sendiri yang pernah mendeklarasikan diri sebagai school hater. Melihat mereka bersepeda dengan riang menembus alam liar (terutama Lintang dengan buayanya), membayangkan saya sendiri yang pulang-pergi dijemput mobil pribadi dengan hambatan beberapa lampu lalu lintas, dan masih mengomel kadang-kadang. Melihat mereka belajar ditemani lampu minyak yang makin lama makin redup, membayangkan saya belajar ditemani 4 lampu neon sekian watt, menyala dengan sempurna dari pagi sampai malam. Mereka tidak merajuk minta dibelikan hand phone baru setiap beberapa tahun (atau beberapa bulan) sekali. Boro-boro hand phone, makan pun susah. Mereka tidak menghamburkan uang untuk pergi ke neraka kecil bernama mall untuk menjadi konsumen mahakarya modernisasi. Mereka bahkan mengapresiasi sesuatu yang oleh generasi sekarang jarang diapresiasi, disyukuri, atau dihargai: keindahan alam, indahnya persahabatan sejati, dan semangat untuk mengejar mimpi.
“Pengejaran mimpi” bagi saya (setidaknya, sebelum saya menonton film ini) adalah sesuatu yang tidak lebih dari sekadar kata-kata pembangkit semangat yang tidak juga bisa dibangkitkan. Saya bahkan pernah bertanya-tanya apakah saya punya mimpi. Jalan hidup yang saya bayangkan dan yang saya tuju terasa biasa-biasa saja, normal, wajar, tanpa suatu keasyikan yang berarti: berjuang masuk sekolah-sekolah dan universitas favorit, bergaul dengan orang-orang yang hidupnya kurang atau lebih kering sedikit dari saya (dengan kata lain: hampir sama dengan saya), lulus, bekerja, menikah, punya anak-anak yang tak diragukan lagi akan saya usahakan menjalani kehidupan yang hampir sama dan “lebih baik” dari saya, punya cucu-cucu, rest in peace.
Selesai? Hidup yang dijalani dengan ‘standar’, seperti banyak orang lain.
Tidak pernah saya merasakan semangat untuk menuntut ilmu sebesar semangat yang diperlihatkan anak-anak muda Belitong di film itu. Tidak pernah saya mencintai guru-guru saya sepenuh hati seperti mereka. Kesalahannya bukan hanya pada saya, namun guru-guru “
Melihat kenyataan seperti itu, mungkinkah saya mencintai guru-guru saya seperti Laskar Pelangi mencintai Bu Muslimah? Saya ragu. Mungkin jika suatu saat nanti saya jadi orang berhasil dan bertemu kembali dengan si Ibu Anu, saya hanya tersenyum dan menyalaminya saja, sekadar bersopan-santun.
Saya akan tambahkan lagi satu hal yang terus menjadi bahan pemikiran saya setelah menonton Laskar Pelangi (kebiasaan, mungkin, tapi saya sulit untuk bisa mencegah diri saya mencerna apa yang saya tonton) adalah tidak adanya alasan bagi saya untuk tidak bisa berprestasi. Terus terang saja, saya kehabisan alasan. Faktor-faktor eksternal yang mungkin menghambat kemajuan saya terkikis sudah. Apa lagi yang tidak bisa saya dapat, coba? Mau beli buku pelajaran atau buku-buku tambahan, tinggal minta. Mau makan, ada. Minta duit, dikasih. Mau les, didaftarin. Fasilitas internet pun begitu mudah diakses. Hanya rasa malas saja yang masih mengahambat saya. Faktor internal. Pelajar modern yang dibutakan oleh materialisme zaman sekarang, tidak menyadari bahwa banyak sekali hal kecil yang berarti di dunia ini.
Saya tahu kenapa saya tidak seperti mereka---Laskar Pelangi itu. Saya sudah terlalu terbiasa dengan segala kemudahan hidup. Saya sudah terbiasa dengan semua kenikmatan yang bisa saya peroleh dengan sedikit usaha, sehingga saya tidak pernah benar-benar siap jadi orang susah. Itu menjelaskan kenapa saya begitu tersentuh oleh film ini. Saya, dan mungkin juga banyak orang seperti saya, disodorkan suatu kenyataan yang biasanya ditolak dilihat oleh mata kita. Saya dipaparkan sebuah kehidupan nyata yang terjadi seakan di dimensi lain, kehidupan keras yang (ternyata) bisa dijalani dengan lebih menyenangkan daripada kehidupan monotonistik kita, tergantung sudut pandang orang yang mengalami.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mempromosikan Laskar Pelangi (buat apa pula, kecuali saya mendapat imbalan, hehehe). Tulisan ini hanya sedikit… apa ya, confession-kah? Entahlah. Yang pasti, saya akan mengatakan ini pada orang-orang seumur saya yang menghabiskan waktu untuk menjunjung tinggi hedonisme, yang menghamburkan uang secara sia-sia dan tanpa perhitungan, yang selalu merasa kurang atas apa yang ia dapatkan, dan -maaf jika saya terlalu generalistik- intinya kebanyakan anak muda zaman sekarang: ingatlah, banyak orang baik yang kurang beruntung dibanding kita. Orang-orang yang mungkin seratus kali lebih baik, hanya saja belum mendapatkan kesempatan untuk hidup layak seperti kita. Saya sungguh berharap kita semua bisa lebih mensyukuri apa yang kita dapatkan sekarang, dan menghargainya lebih tinggi lagi. Percayalah, hidup kita akan jauh lebih bermakna.
3 comments:
tulisannya panjangggg....tapi ko aku masih mau baca ampe selse....reviewnya bagus, aku malah kebalikannya nih, baca novelnya lebih sering idungnya bunyi srott..srot drpd di filmnya.
Wah, berarti rame dong kalo dibaca sampe selese... x)
makasih yaa.
sama sama...nulis review lagi ya :)
Post a Comment