Teddy Bear

Saturday, February 14, 2009

Aku menemukannya di sebuah toko secara tak sengaja. Bukan toko khusus boneka, bukan toko cantik tempat membeli gift, lebih tepatnya toko serba ada. Berbagai macam barang dari mulai permen coklat sampai minyak sayur ada disitu. Keberagaman yang membuatku tertarik. Kebetulankah? Atau mungkin takdir yang membawaku ke sana. Kalau tidak, kenapa dari sekian banyak boneka, dialah yang kupilih?

Saat aku membawanya pulang, sedikitpun aku tidak merasa memilikinya. Instruksi yang diberikan padaku sudah jelas, tanpa banyak cing cong.

Kukeluarkan boneka teddy bear besar itu dari plastik pembungkusnya. Kurasakan bulu-bulunya yang halus, dan aku melihat ke dalam matanya yang hitam, senyum lebarnya yang kaku, pasrah.

Aku tahu sesuatu telah terjadi.

Hanya dalam satu hari aku langsung menyayanginya. Kupeluk dan kubawa ia kesana-kemari. Kududukkan di atas tempat tidurku, kubawa saat aku membaca buku, dan kupeluk erat sekali sebelum aku melepasnya saat aku ingin ke toilet. Entah kenapa aku tidak rela melepasnya, meskipun aku tahu dia bukan milikku. Kuingkari segala akal sehat, kuikuti jalan yang telah terbentang di depanku, jalan yang akan kuretas bersamanya, tak peduli boleh atau tidak.

Jarum jam terus berdetak. Saat senja menjelang dan jingga menyemburat ke angkasa, aku membawanya ke ranah yang lebih pribadi. Sambil memeluknya seperti biasa, aku pun mulai bersahabat dengannya, memberitahunya apa yang kurasakan hari ini dan kemarin, serta harapanku untuk esok. Hanya satu hal yang kurahasiakan: harapanku agar bisa terus bersamanya di hari-hari mendatang.

Aku senang berbicara dengannya meskipun mungkin tidak mendapatkan tanggapan yang kuharapkan. Aku hanya memerlukan penyaluran rasa kecewa, sedikit kasih sayang, dan dukungan psikologis.

Dan dia selalu disana. Aku bertumbuh bersamanya, melalui satu fase dalam hidupku yang kering ini dengan sedikit siraman afeksi darinya, dan aku menikmati setiap detik yang berlalu dengan lebih bahagia dari yang pernah kurasakan.

Malam tiba dan aku kian memeluknya erat.

Seketika aku tahu tanpa diberitahu bahwa dia juga menyayangiku. Bisikan intuisilah yang, kukira, memberitahuku. Dan aku maupun dia tidak butuh lebih dari itu. Tidak butuh permen atau coklat atau rasa yang lain. Ia adalah rasaku, dan aku adalah rasanya. Kami saling melengkapi, walau terkadang bagai air dengan api. Cinta memang tak membutuhkan perwujudan nyata yang ternyata hanya gombal atau bual. Jauh di dalam hati masing-masing, hatinya yang entah apa, mengingat ia adalah teddy bear, aku tahu dia membutuhkanku juga.

Tapi sepanjang apapun malam, pasti akan berakhir.

Dan pagi pun datang, bersinar terang membangunkanku dari mimpi, menyadarkanku bahwa aku masih memeluknya bahkan saat aku tidur. Aku hanya mampu tersenyum, pahit karena aku tahu apa yang tidak ingin aku tahu, karena aku tinggal punya sedikit sisa waktu yang sia-sia.

Pagi ini adalah hari perpisahan kami. Aku toh hanya melewati satu malam karena ia hanya titipan. Ia harus diberikan pada orang lain yang berhak atasnya, dan memang itulah instruksi yang diberikan padaku. Namun berbagai macam pertanyaan berkecamuk. Inilah manusia. Egois. Masih juga mempertahankan apa yang memang seharusnya tidak menjadi miliknya.

Akankah dia aman dalam genggaman pemilik barunya nanti? Akankah orang itu melewati malam yang indah seperti yang telah kulalui, dan membuat teddy bear ini bahagia lagi? Aku takut teddy bear ini tidak akan berarti apa-apa baginya, aku takut ia hanya akan senang pertama-tamanya saja, memeluknya sekali atau beberapa hari lalu membuangnya ke gudang kemudian bermain dengan mainan-mainannya yang lain. Tentu, mainan lain bisa lebih canggih dan menarik dibanding teddy bear ini, jika orang lain tidak mengerti makna sesungguhnya dibalik senyum pasrahnya yang lebar atau matanya yang hitam.

Tapi aku, aku yang berasumsi bahwa aku telah mencintainya dengan sempurna meskipun dalam waktu yang relatif singkat, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Begitu juga teddy bear yang kusayangi. Bukankah takdirnya adalah untuk bisa bebas dipeluk siapapun? Lagipula, dalam genggamanku belum tentu dia bahagia. Mungkin jika aku terlalu lama bersamanya ia akan jadi kotor, dan aku tidak punya waktu untuk membersihkan bulu-bulunya yang lucu dan lembut. Atau mungkin aku menemukan boneka baru dan ia ditinggalkan. Tidak, aku tidak lebih baik dari siapapun yang nanti akan memilikinya.

Takdir membawaku padanya, dan takdir juga yang memisahkanku dengannya. Satu malam indah sudah cukup memberikan energi positif yang baru bagiku dan baginya. Kehidupan kami masih panjang dan baru mencapai tahap awal.

Hanya omongan picisan yang hampakah ini, atau memang refleksi dari apa yang sebenarnya dirasakan? Tapi satu hal aku tahu pasti…

Aku berharap teddy bear[ku] bahagia. Karena sekarang setelah aku melepasnya, aku tahu memang inilah yang seharusnya terjadi.



2 comments:

{ egalita } at: February 15, 2009 at 2:18 AM said...

I got ya Marsh :)

{ Marsha } at: February 16, 2009 at 8:48 PM said...

Got what hon :)