Kamu

Friday, August 28, 2009
Hari-hari terasa sepi bila tanpa kehadiran sosokmu yang selalu membuatku menikmati hari.
Kamu yang selalu membuatku deg-degan, bertanya-tanya, penasaran.
Kamu dan matamu yang selalu membombardirku dengan keputusasaan untuk mengetahui arti pandanganmu yang sebenarnya.

Kamu.

Kamu yang telah aku cintai selama bertahun-tahun.

Kamu.

Kamu yang tidak pernah lepas dari bayanganku akan kecengan ideal, pasangan hidup ideal, cowok ideal.
Kamu yang hingga kini masih menawan bahkan dalam penampilanmu yang paling berantakan sekalipun.
Kamu yang sampai sekarang masih menjadi cowok paling sempurna yang bisa aku ilustrasikan.
Kamu yang memiliki peran penting dalam sejarah kehidupan cintaku.


Kamu.



Photo was taken at Lapangan Parkir Sipil ITB, August 15, 2009. Thanks to Yosia for capturing this moment.



Aku dan kamu sama-sama di ITB.

Hanya mendengar fakta itu saja aku sudah senang, apalagi ditambah kenyataan bahwa kita satu fakultas.
Kupikir kita akan lebih mudah berkomunikasi.
Kupikir kita akan bisa dekat--pada akhirnya.
Kupikir aku akan mendapat kesempatan mendekatimu dan bersamamu dalam waktu yang lama.
Kupikir aku akhirnya bisa menjadi, setidaknya, teman yang paling kau sayang.
Dan targetku pun tidak main-main: aku ingin menjadi kekasihmu, orang yang kau cintai sepenuh hati sebagaimana aku mencintaimu..........pada akhir masa TPB.

Tapi,

Kau ternyata tetap jauh.

Sejauh jarak yang selama ini memisahkan kita, yang membuat kita tak mungkin bersatu.

Kita tidak sekelas, kita tidak 1 kelompok dalam PROKM, kita tidak pernah bersama dalam praktikum, kita tidak ikut unit-unit yang sama, bahkan wali kita pun berbeda.

Kau begitu jauh seperti biasa.
Kau hanya bisa kujangkau sebatas pandangan, pandangan misterius yang membuatku selalu berharap.
Kau hanya bisa kusapa dengan sapaan sederhana yang tidak lebih dari satu-dua kata.

Kau masih tampan, kau masih diam, kau masih begitu sulit untuk kudapatkan.

Aku kehabisan akal.
Aku tak tahu lagi bagaimana caranya agar kita bisa dekat, padahal kedekatan adalah kunci menuju keterbukaan.
Aku bingung.
Aku merasa pesimis...dan sedih.


Ada kemungkinan tahun ini adalah tahun terakhir kita bersama.
Mungkin saja tahun depan kita sudah ada di jurusan yang berbeda.


Aku tidak pernah memikirkan ini sebelumnya.


Kehadiranmu yang konstan dalam setiap fase kehidupanku membuatku merasa seolah aku takkan pernah kehilanganmu, seolah kau akan bisa terus membuatku bersemangat dan penuh harapan hanya karena melihat senyummu, hanya karena aku tahu aku akan menemukan bukti nyata bahwa kau ada.

Aku tidak mau berpisah denganmu.




Aku sangat ingin kita bisa bersatu.
Bersatu dan membuat kisah cinta paling indah yang pernah didambakan orang.
Bersatu dan membuat luka tahunan yang masih membuka ini sembuh dan sehat.
Bersatu, menyatukan apa yang menjadikan masing-masing dari kita unik dan menarik.
Suatu sinergi dalam diversitas.



Tapi aku tak tahu apakah kau mencintaiku seperti aku mencintaimu.

Dan aku tidak tahu bagaimana caranya supaya aku tahu.




Apalah artiku bagimu?



4 comments:

{ Makudin } at: August 29, 2009 at 1:21 PM said...

marshaaa....
ingin bisa cinta seseorang kayak kamu cinta si 'kamu' ~_~

marsha so sweet! :D

{ Marsha } at: August 29, 2009 at 9:12 PM said...

Ah maidin, mencintai seseorang kayak gini itu sakit. *waw puitis hahaha*

Jadi malu... :')

{ Makudin } at: August 30, 2009 at 4:37 PM said...

hha, tapi marsha tu kayaknya setiaaa, bangeet :)

tetap semangat ya, mar! :D

{ Marsha } at: September 1, 2009 at 11:57 AM said...

Hahaha...do'ain aja yaa maidin...siapa tau emang jodoh hehehe :)