Satu tahun berlalu dengan kecepatan yang terasa lebih dari kecepatan cahaya. Hidup memperbesar jaraknya dengan hari saat aku pertama kali melihat dunia. Hidup bergerak, lagi, dengan kecepatan yang konstan. Sekarang ia sudah berjalan selama enam belas tahun sembilan bulan.
Masa remaja adalah saat-saat penting yang menentukan destinasi selanjutnya dari kehidupan seorang manusia. Masa yang penuh energi, bisa disalurkan either untuk hal negatif maupun hal positif. Pembangkangan terhadap moral values yang dipegang erat waktu kecil, petualangan mencari jati diri, maupun pencarian cara untuk mengaktualisasikan diri—semua terangkum dalam satu fase kehidupan seorang insan, terjalin unik, silang-menyilang.
Dua ribu delapan telah [hampir] berakhir. Meninggalkan lebih dari sejuta kenangan dalam hati. Segala yang telah terjadi di kampus berisi pohon-pohon hijau yang masih sering kubayangkan dalam fantasi gila untuk memutar waktu kembali, mendominasi kejadian-kejadian yang terjadi pada kuartal pertama tahun dua ribu delapan. Disusul dengan petualangan cinta, kegamangan hati, kejayaan akademis dan sukses dalam the world of debating, another form of The Positive Discrimination, stres menghadapi kenyataan menjadi siswa tahun terakhir di Sekolah Menengah Atas yang dibayang-bayangi berbagai macam ujian yang harus ditempuh, jatuh, bangun, jatuh, bangun lagi, waktu-waktu yang dihabiskan dalam jeratan melankoli, momen-momen kesendirian yang mutlak, kesadaran dan pencerahan secara fisik maupun spiritual…. dan tanpa terasa dua belas bulan telah dikhatamkan.
December. The time of the year, seperti kata
Dua ribu delapan telah melambungkanku ke sebuah titik puncak, kulminasi dari kebahagiaan-kebahagiaan yang telah kulalui dalam enam belas tahun ini. Tanpa direncanakan, tanpa diduga, sebuah petualangan baru, ‘melihat ke luar sangkar’, telah kujalani. Tentu, kenikmatan duniawi satu ini memang bukan hal yang selamanya bisa sehat. Agaknya teori ekonomi tentang penerapan skala prioritas telah menyelamatkanku, dan aku bersyukur karenanya.
Sulit memang mencapai keseimbangan dalam hidup. Kadang kala satu sisi terasa begitu menarik dan menggoda untuk semakin digeluti. Tanpa ragu kita menceburkan diri dalam zat adiktif yang kenikmatannya terus bereskalasi, sampai pada suatu titik grafik fungsi kuadrat yang membuka ke bawah itu menukik, pelan, pelan, sampai akhirnya kita mencapai titik nadir. Tersadarlah diri bahwa hal-hal indah tadi hanya temporary pleasure. Ratapan dan penyesalan sudah tidak berguna lagi.
Titik nadir itu telah kulalui pada tahun dua ribu tujuh, saat segala komposisi kimia dalam tubuh tidak lagi mampu menyokong segala kegiatan biologis, singkatnya, hidupku benar-benar kacau. Aku sempat hampir mengalaminya lagi di tahun dua ribu delapan, tapi rupanya Allah SWT masih menyayangiku. Untuk beberapa kasus tertentu, suatu kekuatan metafisis memang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan.
Dua ribu delapan telah mengombang-ambingkanku dalam pertanyaan Quo Vadis? Mau kemana? Aku hampir lepas dari ‘dunia abu-abu’ sekarang, dunia dimana dunia tidak lagi bisa terlihat sesederhana hitam dan putih. Upaya-upaya untuk menyelamatkan diri sendiri telah kujalani, dalam keputusasaan yang sia-sia dan dengan pengharapan untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Cukup manis hasilnya. Ah, betapa anjuran agama untuk bertawakal memang benar-benar manjur.
Hidup telah, selalu, dan akan menjadi sebuah enigma yang memiliki keasyikan tersendiri untuk dimaknai, dinikmati, ditangisi, dicaci, dicintai, dibenci, dan dihargai. Hidup terlalu penuh dengan keragaman yang berwarna-warni. Variasi yang ditawarkan tidak pernah gagal membuat kejutan-kejutan baru yang membuat seseorang menangis dan tertawa.
Dua ribu delapan akan segera berakhir, dan drama-drama menyesakkan yang juga menyejukkan jiwa dalam periode ini akan berakhir juga. Hal-hal yang berjejal dalam otak dengan kapasitas jutaan gigabyte seorang Homo sapiens, tapi juga hal-hal yang bisa sangat dekat dengan permukaan bahkan tanpa disearch. Segala yang terjadi akan segera menjadi kristal memori yang abadi: kuat, dengan kekuatan yang mengerikan, cukup mengerikan untuk membuat orang tertambat pada masa lalu.
Dengan ini pula sebuah pandangan ragu nyaris tanpa semangat maupun optimisme yang menari liar disulut api harapan ditebarkan dalam menatap dua ribu sembilan. Sebuah tahun yang penting, tahun pembuktian diri saya, tahun yang akan memiliki bahan baku ribuan do’a yang dipanjatkan supaya menembus ‘Arasy, tumpukan soal latihan Ujian Nasional SMA dan Seleksi Masuk PTN serta malam-malam dingin di bimbingan belajar. Tahun yang akan mengakhiri petualangan dua belas tahun saya di sekolah formal, tahun yang (Insya Allah) mengantar saya pada suatu gerbang dari babak baru kehidupan: campus life.
Pertanyaan mengerikan mungkin bisa dijawab dengan sebuah jawaban skeptis, tapi aku tidak berjalan di arah itu. Masa-masa meratapi nasib sudah lewat. Prinsip sederhana wanita perkasa yang melahirkanku tentang no talk only action tampaknya adalah prinsip yang tepat untuk diterapkan pada periode-periode kritis yang mungkin akan terjadi di tahun dua ribu sembilan ini. Aku tidak lagi akan menjadi pujangga bermuram durja yang hanya bisa mencurahkan seluruh isi hati tanpa usaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi manis yang berpendar dalam halo kehangatan. Sekarang bukan saatnya membuat utopia—sekarang saatnya kembali ke bumi melihat kenyataan dan berusaha sekuat tenaga menggapai utopia versi tidak sempurna dengan pikiran yang rasional.
Hidup menawarkan kesempatan tak terbatas bagi orang-orang yang mau memanfaatkannya dengan baik, dan aku ingin menjadi salah satu dari orang-orang itu.
If life is everchanging, so why worry, we say.
3 comments:
artikel yang bagus .
tapi pengaturan layoutnya sedikit diperbaiki.
lain kali saya akan mengunjungi blog anda lagi .
trims .
*Fauzievolute Developer*
enbloguzi.blogspot.com
hoho, tq!
Post a Comment