In Memoriam

Saturday, December 6, 2008

Hujan yang sama.

Titik-titik air itu tidak menghalangiku untuk mengembangkan payung dan berjalan malu-malu, melewati setiap lintasan yang pernah kulewati. Setiap lintasan dengan cerita yang berbeda, cerita yang penuh tawa dan air mata.

Aku melangkahkan kaki memasuki tempat itu, tempat yang akan selalu punya arti khusus di sudut hati, dan tempat yang akan selalu membuatku teringat kembali akan segalanya.

Hujan yang sama.

Aku mengenang, meskipun akal sehatku berkata aku tak boleh, bahwa aku bodoh karena mau ditenggelamkan dalam melankoli. Tapi toh akal sehatku kalah juga. Setiap kerikil seakan mengatakan “Selamat datang kembali”, dan titik-titik air yang tercurah dari langit benar-benar merepresentasikan butiran air mata yang kucegah untuk jatuh.

Hari-hari ini, setahun lalu.

Aku membuka kembali lembaran lama yang sudah sepia, tua, dan usang. Puing kenangan pertama: tempat aku pernah dikritik, “if you can’t fulfill your role as a first speaker, then you have no use”; tempat aku pernah ditonton berbagai pasang mata saat aku sedang “berdeklamasi”, dan tempat aku pernah berjalan bersama sahabat, melihat papan pengumuman dan, merasa tersanjung.

Aku melewati puing pertama cukup cepat.

Melangkah menuju puing kedua, pohon-pohon yang ada seakan mengerti perasaanku. Aku mungkin gila, tapi aku merasa mereka menyambutku dengan hangat, berkata bahwa aku pernah berada di sini dalam situasi yang sangat berbeda, sangat menyejukkan hati, setahun lalu. Pohon-pohon itu seakan berkata mereka pernah menjadi saksi segala kejadian yang terjadi di area-nya, bahwa aku akan selalu diterima, meskipun manusia-manusia bernyawa tidak mengatakan hal itu.

Sekilas keempat spot dalam satu puing kenangan itu tampak sama, namun masing-masing memiliki cerita sendiri. Di sana, tempat aku pernah merasakan betapa menjadi outsider itu sangat tidak menyenangkan, namun dengan cepat dirangkul oleh orang-orang yang sangat kucintai, “You’re a part of us”. Kata-kata yang manis, aku sungguh berharap aku bisa mendengarnya lagi sekarang, meskipun aku tahu itu tidak akan terjadi. Di tempat yang itu, aku pernah menghabiskan malam dan mendapatkan banyak pelajaran. Di tempat satunya, aku pernah dipuji atas suatu skill, suatu pujian yang bagiku terasa tak pantas untuk ditujukan padaku. Di tempat yang lain, aku pernah menggila bersama orang-orang, bersama menghabiskan dua bungkus keripik tradisional cukup cepat—aku tersenyum.

Kulewati puing kedua tanpa membalikkan badan. Cukup. Aku bisa menahan air mataku sekarang.

Puing ketiga, tidak memiliki begitu banyak makna. Namun aku tahu jalan berbatu yang kulewati di puing ketiga inilah yang memiliki cerita. Aku tidak mau berteduh dalam naungan bangunan di sisi-sisinya, aku memilih untuk melangkah bersama air hujan. Aku tidak mempedulikan celana panjangku yang mulai basah, seandainya aku bisa mendengarkan lagu, pikirku.

Jalan-jalan yang sangat tidak asing itu mengantarku ke sebuah puing terakhir, jantung segala hal yang ingin kukenang, tempat amarah, romansa, childishness, dan tuntutan untuk memiliki profesionalisme pernah menyatu dalam desir angin yang belum pernah kudapatkan di tempat lain. Aku masih menahan harga diri untuk tidak membiarkan air mataku tumpah. Aku berjalan terus, menaiki anak tangga, dan duduk.

Di tempat yang officially bernama Tempat Kenangan.

Ajaib, betapa segalanya tampak sama meskipun setahun telah berlalu. Bangunan itu, bangunan di seberangnya, pohon-pohon besar di depanku, dan lebih aneh lagi: hujan dan anginnya.

Aku senang bisa duduk sendiri di sana, bebas membiarkan pikiranku terbang. Aku membuka buku 90 Menit Bersama Kant, namun tidak benar-benar membaca, hanya melakukannya untuk tampak mengerjakan sesuatu. Aku ingin sahabat berjilbabku datang dan mengajakku minum kopi lagi—namun dia ada di benua Indian sekarang. Atau mungkin aku ingin seseorang diantara mereka datang, mengajak main kartu, namun orang itu juga sedang berada di Ibu Kota. Aku mungkin ingin seseorang yang lain datang dan siap mendengarkan segala keluh kesahku seperti setahun lalu, namun aku tahu pasti dia sudah tidak begitu. Mungkin aku ingin semua orang datang, siapa tahu?

Dingin menusuk setiap inci kulitku. Tapi aku tidak mengeluh, aku tidak melakukan upaya apapun, aku ingin segala hal indrawi yang masih bisa kurasakan menyiksa dan mencintaiku dengan caranya sendiri. The best remedy for those who are afraid, lonely, or unhappy is to go outside, somewhere where they can be quite alone with the heavens, nature, and God. Because only then does one feel that all is as it should be and that God wishes to see people happy, amidst the simple beauty of nature (taken from a story in the book Come Down and Startle).

Kemudian segalanya terdistorsi.

Suara dengan nada yang aku tahu akan dipakai oleh siapapun yang sedang melakukan kegiatan yang biasa kulakukan terdengar. Itu bukan suara yang sama dengan suara-suara yang sudah akrab di telingaku, bukan suara-suara bersahabat yang sama. Suara itu membuyarkan aku dari trans, suara entah siapa itu menggiringku kembali ke neraka-masa-kini, memaksaku untuk kembali dari jalan-jalan santai ke masa lalu, dan mengutukiku dengan cemoohan betapa bodohnya aku.

Perubahan memang tidak bisa dihindari.

Dan aku pun bangkit menuju mereka, dengan patuh membiarkan fantasiku kecewa dan keluar dari kubangan lumpur kenangan yang tidak akan pernah mengizinkanku untuk maju. Aku kalah dua kali. Dikalahkan oleh racun masa lalu dan kepahitan masa kini.

Namun saat aku memutuskan untuk pulang setelah bergabung dalam masa kini-ku, hujan masih tetap turun. Hujan yang sama.

Hari-hari ini, setahun lalu.

2 comments:

{ egalita } at: December 9, 2008 at 2:14 AM said...

DAMN YOOOOOOOOOOOUUUUUUUUUU!!!!!!!!

SH*T.

I'm now crying.

CRYING, for God sake!

I remembered all, buddy. ALL.

Especially because my mom has just sent me my 4th debate book (road to ALSA UI) with all of the stuffs in there.

I remembered ALL.

All place you mentioned. All things happened in every single place. All people who practiced and laughed with us. ALL.

Darn.

I hate crying alone.

Wanna be there with you.

{ Marsha } at: December 10, 2008 at 10:53 AM said...

.................



you.

them.

me.





and all of our memories.



and everything that will never ever happen again.




.......................


we're just two little kids.