Warning: this is just my personal opinion and not intended to offend any religion.
Beberapa tahun yang lalu, saya tidak akan pernah berpikir untuk ‘mengungkapkan pendapat’ tentang Tuhan atau Agama. Hal-hal sensitif, yang jika diperbincangkan tampak seperti “perbincangan orang kafir”. Seperti kebanyakan orang lain, saya menjadi makhluk pasrah yang menerima segala konsep baik dan buruk sebagai pahala dan dosa.
Mungkin benar jika orang mengatakan bahwa semakin banyak orang belajar, semakin kaya pengetahuan seseorang, semakin sering ia bertanya tentang hal-hal yang tadinya tidak pernah ia tanyakan. Saya pun begitu. Saya baru mulai menganalisis, bertanya-tanya tentang hal-hal sensitif ini saat saya menginjak bangku SMA, tepatnya kelas 1. Waktu itu saya berada dalam ruang abu-abu, yang kebetulan juga merupakan warna seragam yang baru saja saya pakai. Ruang abu-abu yang saya maksudkan di sini adalah keyakinan saya yang goyah terhadap konsepsi Tuhan dan Agama. Saya bahkan sempat melontarkan pertanyaan fatal tentang keberadaan Tuhan.
Pada akhirnya, saya bisa lepas dari ruang abu-abu itu. Saya kembali pada nilai-nilai agama yang telah ditanamkan pada saya sejak kecil, kembali pada agama yang saya peluk dengan ikhlas hingga kini. Alhamdulillah.
Selama hidup saya, saya banyak bertemu orang dengan karakteristik yang berbeda, dan saya juga berteman dengan mereka. Dari observasi saya, saya mengelompokkan mereka dalam beberapa kelompok : ada orang-orang yang agamis; penghuni mesjid yang setia, anggota DKM, dan pementor ulung. Ada orang-orang yang biasa saja; orang Islam yang sekedar sholat lima waktu untuk memenuhi ‘keharusan’ atau ‘kepatutan’, orang Kristen yang pergi ke gereja beribadah alakadarnya, dan orang-orang agama lain.
Saya rasa kelompok orang yang menjalani ritual agama sebagai sebuah ‘kepatutan’ inilah yang paling banyak beredar. Bahkan jika saya bertanya sekarang pada pembaca, apakah kamu sudah menemukan alasan mengapa ibadah-ibadah yang kamu jalankan itu harus dijalankan? Saya yakin banyak yang akan kebingungan menjawab pertanyaan mengapa ini.
Saya tidak menyatakan bahwa saya orang yang pintar agama atau orang soleh, saya juga tidak akan menyatakan bahwa saya adalah orang yang sepenuhnya lurus, karena pada kenyataannya saya juga belum bisa benar-benar menemukan jawaban atas pertanyaan saya tadi. Tapi bukankah ini sebuah ironi yang nyata, bahwa kita sebetulnya telah lama melakukan suatu kewajiban yang kita sendiri tidak tahu alasan melakukannya?
Agama bagi saya adalah suatu way of life, atau bisa juga dikatakan sebagai foundation dari hidup saya. Saya menjalani hidup, mengenal konsep baik dan buruk, mengenal tentang after life (alam barzah, hari kiamat) melalui perspektif agama Islam. Suatu pertanyaan menarik pernah diajukan oleh teteh mentor saya dalam suatu sesi pesantren kilat:
Mengapa kamu memilih Islam sebagai agama kamu?
Saya tahu, orang-orang di sekitar saya pada waktu itu tidak benar-benar mengimani jawaban mereka. Lip Service, basa-basi, seperti kebanyakan orang.
Mengutip pernyataan Dewi Lestari, pengarang Supernova dan Rectoverso yang pindah agama dari Kristen ke Buddha dalam sebuah blogpostnya, “Agama hanya cangkang bagi saya. Esensi terdalam dari sebuah agamalah yang menarik”.
Cobalah pikirkan kalimat tersebut. Renungkan.
***
Berapa banyak orang di dunia ini yang tidak ikhlas menahan lapar dan haus saat berpuasa, sehingga yang mereka dapatkan bukan pahala, hanya rasa lapar dan haus? Bukankah mereka yang malu kalau ketahuan minum di depan banyak orang karena adanya social response berupa mata yang seakan meng-scrutinize mereka, bukan karena “mata” sang Khalik?
Berapa banyak orang yang setiap harinya menjalankan sholat
Berapa banyak orang yang bersedekah milyaran Rupiah demi melihat nama mereka tercantum sebagai donatur tetap dan dipuji banyak orang atas kedermawanan mereka?
Berapa banyak orang yang tidak berani korupsi sendiri tapi berani korupsi berjamaah sebagai pembenaran atas tindakan yang telah mereka lakukan? Mereka yang berdalih “orang lain juga begitu”?
Cukup bukti bahwa agama, dan ajaran-ajarannya, ternyata hanya ‘cangkang’ bagi sebagian besar orang. Bisa juga dikatakan sebagai ‘topeng sosial’. But unlike Dewi Lestari, mereka tidak pernah memaknainya.
***
Tuhan, secara general, adalah suatu konsep yang apriori (terbentuk sebelum pengalaman). Alasan inilah, menurut saya, yang menjadi jawaban atas pertanyaan mengapa begitu banyak orang yang sekadar menjadikan agama mereka ‘cangkang’ tanpa memahami esensinya. Dari kecil, kita sudah didoktrin dengan ajaran-ajaran agama berikut ritual-ritual yang harus dijalankan. Jika tidak menjalankannya, kita dianggap berdosa. Jika kita berdosa, kita akan masuk neraka. Jika kita menjalankannya, kita akan mendapat pahala, dan ganjaran pahala adalah surga. Begitulah kira-kira alurnya. Kebanyakan orang tidak disodori suatu evidence yang nyata bahwa Tuhan itu ada. Kita menganggap Tuhan ada karena kita diberitahu oleh semua orang bahwa Tuhan itu ada. Sedikit dari kita yang pernah mengalami pencarian Tuhan, ataupun benar-benar merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupannya. Apalagi penafsiran “Tuhan” pun berbeda-beda, meskipun secara umum setiap orang sepakat bahwa ada suatu kekuatan metafisis yang berkuasa atas segala sesuatu yang fisis.
Di bab-bab kehidupan saya terdahulu, saya mungkin akan menganggap diri saya sekarang sudah ‘melenceng’ karena menulis hal seperti ini. Tapi saya rasa tidak ada salahnya mencoba mencari kebenaran yang dapat mempertebal iman. Sejak bertemu orang-orang yang ‘tidak biasa’: mereka yang semi-agnostik, atau mereka yang masih menganut suatu agama tapi tidak mengimaninya lagi sehingga tidak menjalankan ritual yang diajarkannya, saya menjadi menghargai pluralisme dalam dinamika kehidupan. Awalnya saya menganggap mereka kafir, tapi lama kelamaan saya mengerti kegundahan batin mereka (meskipun saya menyayangkan sikap mereka itu: bagaimanapun juga mereka mengaku masih merasa bersalah jika tidak menjalankan ritual agama yang dulu begitu khusyuk dijalankan). Pada suatu titik puncak, saya yakin mereka akan menemukan suatu kebenaran, atau Tuhan akan menyelamatkan mereka.
Di sisi lain, Agama, sebagai media pengenalan Tuhan, pun sering diartikan salah oleh sebagian orang. Menurut saya pribadi, Agama adalah sebuah ideologi terbuka, dalam artian Agama hanya mengandung konsep-konsep dasar yang isinya patut ditafsirkan ulang untuk dicari suatu pengertian yang bisa pas bagi zaman demi zaman, yang tentunya jangan sampai melenceng dari konsep dasar tersebut. Hal ini didasarkan atas pendapat bahwa Agama dirancang sebagai sesuatu yang abadi sampai akhir zaman (tentunya ini menurut agama saya, Islam). Saya tidak setuju dengan orang yang sangat kaku dalam memaknai ajaran Agama. Misal: dalam agama saya diajarkan amar ma’ruf nahi munkar, yang artinya kira-kira melakukan kebaikan dan mencegah kemunkaran/kebatilan/kejahatan. Bandingkan hal tersebut dengan hal berikut ini: Seorang teman saya yang agamis pernah mengatakan, “Jangan sekali-kali memberikan ucapan selamat
Saya terdiam.
Apa sebetulnya yang sangat salah soal agama Kristen sehingga mereka harus disadarkan? Apa relevansi amar ma’ruf nahi munkar dengan tidak mengucapkan selamat pada teman yang merayakan hari besar agamanya? Saya pikir inilah satu contoh penafsiran yang keliru. Apakah seorang bos perusahaan, misalnya, yang tentu mempunyai rekan bisnis orang Tionghoa yang beragama Kristen, tidak boleh mengucapkan “Selamat Natal” pada rekan bisnisnya itu karena dianggap tidak menjalankan ajaran agama Islam? Saya pikir it’s not something good to be applied. Lagipula jika kita melihat QS. Al-Kafirun ayat 6, tertera jelas bahwa Islam juga mengajarkan toleransi antar umat beragama. Lakum diinukum waliyadiin. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.
Sayangnya, hal-hal seperti ini sering dan bahkan sedang terjadi. Umat beragama menjadikan agamanya masing-masing “agama nomor satu”. Gerakan Gold, Glory, and Gospel zaman penjajahan dulu ternyata masih ada sampai sekarang. Friksi-friksi antar umat beragama pun terjadi. Ambillah contoh FPI (Front Pembela Islam) yang menurut saya sangat tidak mencerminkan agama Islam. Apakah dengan cara kekerasan seperti itu agama Islam seharusnya diterapkan? Tidak. Bagi saya tindakan-tindakan seperti itu kurang perhitungan. Buatlah citra agama Islam yang baik, dengan cara-cara terhormat dan tidak memaksa, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad. Atau contoh lain soal gerakan pemaksaan masuk agama tertentu pada orang-orang miskin yang butuh bantuan biaya besar dalam mengobati anak yang berpenyakit kronis atau terlilit hutang (ini benar-benar terjadi). Hal-hal ini sesungguhnya sudah melenceng dari konsep dasar “Agama” itu sendiri. Bagaimana orang itu mau taat, jika mereka masuk agama pun bukan karena mengimaninya?
***
Dengan menulis tulisan ini, saya hanya ingin berbagi pengalaman dan opini saya kepada pembaca. Saya hanya ingin mengajak pembaca untuk lebih memaknai agamanya masing-masing, mengimaninya, dan menemukan kedamaian daripadanya. Melalui tulisan ini saya juga ingin mengajak pembaca untuk memperkuat toleransi antar umat beragama, dan melakukan hal-hal yang berguna untuk bumi daripada sekedar membuat permusuhan. Dan di akhir hidup kita, mungkin kita bisa dikenang oleh umat beragama manapun sebagai ‘orang yang baik’, bukan agresor yang keras kepala.
Papa saya pernah mengatakan hal ini waktu saya masih kecil:
Sebenarnya perbedaan antar agama itu nggak harus selalu dipermasalahkan. Semuanya balik lagi ke sifat egois manusia yang pengen agamanya jadi yang terbaik. Coba kamu bayangin sebuah gunung. Anggaplah puncak gunung itu Tuhan, atau kebahagiaan abadi, atau surga. Orang-orang mencoba mendaki gunung itu dari mulai kaki sampai puncak. Jalan yang dilalui berbeda-beda. Si A mungkin lewat kanan, si B mungkin lewat kiri. Meskipun jalannya beda, tapi toh tujuannya sama. Begitu juga agama. Kelihatannya memang beda, bertolak belakang, tapi toh tujuan akhirnya itu-itu juga.
Karena saya waktu itu masih SD, saya belum bisa sepenuhnya memahami analogi bagus Papa saya itu.
Tapi berhubung saya sekarang sudah kelas 3 SMA, wajarlah kalau saya katakan saya sudah sedikit mengerti maknanya.
0 comments:
Post a Comment